Internasional | Sabtu, 07/08/2010 13:14 WIB
Kemampuan Produksi Vaksin Indonesia Layak Dicontoh
Bandung, (ANTARA) - Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) Prof Dr Zuhal menilai kemampuan produksi vaksin Indonesia yang diperankan PT Bio Farma sangat layak menjadi contoh bagi negara-negara Islam anggota IDB untuk menuju kemandirian vaksin.
"Indonesia mempunyai industri vaksin yang memiliki keunggulan kompetitif yaitu Bio Farma. Kemampuan produksi dan inovasinya pantas menjadi contoh bagi negara lain khususnya negara-negara Islam," kata Zuhal pada "6th Annual Meeting 2010 IDB Self Reliance in Vaccine Production (SRVP) Programme" di Bandung, Sabtu.
Menurut Zuhal, dari sisi teknologi, PT Bio Farma telah banyak melakukan inovasi sehingga mampu memproduksi berbagai jenis vaksin yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Inovasi teknologi ini menjadikan Indonesia selangkah lebih unggul dibandingkan negara-negara Islam anggota Bank Pembangunan Islam (IDB) dalam hal industri vaksin.
Keunggulan yang dipunyai Indonesia dengan Bio Farma-nya dapat menjadi nilai lebih untuk ditularkan kepada negara-negara Islam yang menjadi anggota IDB.
Menurut Zuhal, sudah saatnya negara Islam mulai mengembangkan industri vaksin sendiri.
"Negara Islam mempunyai kekayaan hayati yang dapat dikembangkan sebagai sumber produksi vaksin," kata Zuhal.
Melalui kemampuan untuk memproduksi vaksin, berarti negara-negara Islam anggota IDB dapat memenuhi kebutuhan vaksin sendiri," kata pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi itu.
Sementara itu pelaksanaan "6th IDB-SRVP Annual Meeting" memasuki hari kedua, Sabtu (7/8). Pada hari kedua ini dilakukan pembahasan mengenai agenda program IDB ke depan.
Direktur Utama PT Bio Farma Drs Iskandar Apt MM terlipilih sebagai pemimpin sidang. Sejumlah delegasi menyampaikan pandangan dan upaya pengembangan vaksin di negara masiung-masing.
Beberapa di antaranya mencetuskan sejumlah rencana untuk merealisasikan kemandirian vaksin di kalangan negara Islam anggota IDB.
Ketua Delegasi IDB Mohammed Ali Toure mengatakan, perlu kerja sama antarnegara Islam dalam pengembangan industri vaksin.
"Kerja sama bisa melalui pelatihan SDM maupun sharing technology," kata Toure.
Bentuk kerja sama dapat digagas oleh negara-negara anggota IDB dalam pertemuan tahunan di Bandung ini. Formula kerja sama dapat diputuskan setelah masing-masing negara melakukan diskusi untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi.
"Apabila ada masalah yang terkait finansial, IDB siap membantu," kata Ali Toure
Untuk menuju kemandirian vaksin, kata dia negara Islam anggota IDB perlu melakukan riset. Pemenuhan kebutuhan riset ini harus didukung dengan laboratorium yang memadai.(*/tdy)