Nasional | Jumat, 10/09/2010 17:37 WIB
Jenazah Joni Disemayamkan di RSCM
Jakarta, (ANTARA) - Jenazah Joni Malela (45n) disemayamkan di ruang jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), setelah dilarikan dari lokasi antrian silaturahim warga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.
"Jenazah Joni Malela sekarang disemayamkan di ruang jenazah," kata petugas jaga ruang jenazah RSCM, Hengky di Jakarta, Jumat.
Joni yang tunanetra itu meninggal dunia setelah berdesakan dengan warga lainnya di pintu gerbang komplek Sekretariat Negara. Sejumlah warga berada di komplek Istana Kepresidenan untuk bersilaturahim dengan Yudhoyono, sekaligus merayakan Hari Idul Fitri 1431 H.
Hengky menjelaskan, jenazah Joni tiba di RSMC pada pukul 15.50 WIB. Beberapa petugas Palang Merah Indonesia mengantar jenazah dengan menggunakan mobil ambulans.
Sesaat setelah tiba, dokter jaga langsung memeriksa jenazah, termasuk mendiagnosis penyebab kematian. Sampai berita ini diturunkan, belum ada informasi tentang penyebab kematian Joni. Namun informasi menyebutkan, Joni meninggal karena serangan jantung.
Rencananya, jenazah Joni akan segera diambil oleh pihak keluarga. Menurut Hengky, pihak keluarga Joni sedang mengurus sejumlah kelengkapan administratif di kantor kepolisian sektor Gambir, Jakarta Pusat.
"Pihak keluarga tadi diwakili langsung oleh istrinya yang juga tuna netra," kata Hengky.
Sementara itu, pihak Istana Kepresidenan sedang menelusuri penyebab kematian Joni Malela, warga Cinangka, Kabupaten Bogor, yang meninggal dunia setelah terdesak dan terinjak-injak kerumunan masyarakat yang ingin bersilaturahim dengan Yudhoyono.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan kepolisian sektor (Polsek) setempat.
"Saya sedang berkoordinasi, minta Polsek memastikan korban tewas itu. Tapi yang jelas itu 'kan kerumunan dari pengunjung berdesakan di luar, bukan karena tindakan atau kekerasan yang dilakukan oleh petugas," katanya.
Julian menjelaskan, ia sempat memeriksa apakah petugas di lapangan bertindak di luar prosedur.
Namun, ia memastikan semua petugas berada di dalam halaman Gedung Sekretariat Negara sedangkan masyarakat yang saling mendorong berada di luar.
"Ini yang kita imbau agar mereka bisa menahan diri. Jangan sampai terjadi aksi saling dorong dan tidak berusaha memaksakan diri untuk masuk ke dalam," ujar Julian. (*/wij)