Nusantara | Jumat, 03/09/2010 07:43 WIB
Abbas, Netanyahu Berikrar Bertemu Tiap Dua Pekan
Washington, (ANTARA/AFP) - Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memulai pertemuan langsung pertama mereka pada Kamis di Washington dalam 20 bulan, dan berikrar akan bertemu setiap dua pekan untuk mencapai perdamaian abadi pada tahun ini.
"Terima kasih atas dorongan dan komitmen Anda semua," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kepada Netanyahu dan Abbas saat ia membuka acara pertemuan empat jam tersebut.
"Saya tahu keputusan untuk duduk bersama di satu meja ini tidak mudah," kata pemimpin puncak diplomat AS di sebuah meja segi-empat di ruang kandelar di Departemen Luar Negeri, merujuk pada pertemuan yang "penuh kecurigaan dan skeptisme" itu.
Sehari setelah pertemuan simbolisme dan retorika dengan Presiden AS Barack Obama, Abbad dan Netanyahu mulai menyampaikan butir-butir pidato mereka secara terbuka.
"Kami berharap Anda untuk bersiap mengakui Israel sebagai negara bangsa Yahudi," kata Netanyahu kepada Abbas, saat keduanya duduk di samping Hillary dengan masing-masing bendera nasional di belakang mereka.
Rakyat Palestina khawatir mengakui negara Yahudi karena akan meruntuhkan hak kembali pengungsi Palestina ke tanah mereka di Israel, tempat mereka lari menyelamatkan diri dalam perang 1948 menyusul Israel memproklamirkan kemerdekaannya di tanah Palestina.
Segera setelah dua serangan gerilyawan Palestina terhadap para pemukim Yahudi di Tepi Barat yang diduduki, Netanyahu kembali menegaskan di Gedung Putih pada Rabu untuk melindungi keamanan Israel.
"Perdamaian yang utuh perlu juga melindungi keamanan Israel," kata Netanyahu.
Dalam menanggapi hal itu, Abbas menegaskan, "Kami menganggap keamanan sebagai masalah penting dan vital bagi kedua pihak, kami dan Anda, dan kami tidak akan menerima tindakan siapapun yang mengganggu keamanan kami atau keamanan negara Anda."
Pemimpin Palestina itu mengatakan penyelidikan sedang dilakukan atas penembakan yang menewaskan empat pemukim Yahudi pada Selasa lalu.
Namun Abbas juga kembali menyampaikan permintaannya menyangkut pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat termasuk di Jerusalem Timur.
"Kami mendesak pemerintah Israel untuk melangkah maju dengan komitmennnya guna mengakhiri semua kegiatan pembangunan permukiman dan secara penuh mencabut embargonya terhadap Jalur Gaza," ujar Abbas.
Israel secara ketat mengontrol akses ke Jalur Gaza, wilayah Palestina yang dikuasai oleh Hamas, faksi lawan politik Abbas, yang menentang perundingan perdamaian tersebut.
Kedua pemimpin Timur Tengah itu secara erat berjabat tangan, dan kemudian Abbas mengacungkan dua jempolnya kepada Netanyahu.
Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell menggambarkan pertemuan 90 menit pertama antara dia, Hillary, Abbas dan Netanyahu sebagai "produktif".
Abbas dan Netanyahu kemudian bertemu empat mata, yang para pejabat katakan berlangsung selama 93 menit.
Para pejabat Palestina mengungkapkan bahwa dalam pertemuan empat mata itu Abbas kembali mendesak Netanyahu untuk menghentikan seluruh pembangunan permukiman Yahudi untuk berlanjutnya perundingan perdamaian.
Israel membangun rumah permukiman sekitar 500.000 warga Yahudi di tanah Palestina yang diduduki Israel pada 1967.
Perundingan langsung antara Israel dan Palestina itu terakhir diadakan pada Desember 2008 ketika Israel melancarkan serangan militer terhadap Gaza dengan dalih untuk menghentikan tembakan roket ke Israel oleh pejuang Hamas. (*/wij)