Nusantara | Jumat, 30/07/2010 10:07 WIB
Mahoni Berdiameter 2,5 Meter Ditemukan di Banyuwangi
Salah satu pohon mahoni berdiameter
2,5 meter di kaki Gunung Ijen
Banyuwangi, (ANTARA) - Pohon mahoni berdiameter 2,5 meter hingga kini masih ditemukan di kaki Gunung Ijen, Banyuwangi, meski pembalakan liar dalam 20 tahun terakhir menumbangkan banyak pohon.
Wartawan ANTARA di Banyuwangi, Jumat, melaporkan tidak hanya garis tengah yang sudah terbilang langka, tetapi jumlahnya juga cukup banyak yakni hampir 2.000 pohon untuk diameter 1-2,5 meter.
Untuk mahoni berdiameter di bawah 1 meter hingga 0,6 meter juga berjumlah hampir 2.000 pohon. Belum lagi, ribuan tanaman mahoni yang bergaris tengah antara 10 centimeter hingga 20 centimeter.
Sepintas, mendengar ribuan pohon mahoni yang diperkirakan telah berusia antara 50 tahun hingga 80 tahun itu, terbayang pohon tersebut berada di sebuah kawasan konservasi atau hutan lindung.
Namun, prediksi itu ternyata salah besar, karena tanaman mahoni yang terbilang sudah langka di Pulau Jawa itu berada di kawasan Perkebunan Kalibendo, Banyuwangi.
Meski sudah tidak terhitung berapa kali mendapat tawaran menggiurkan karena beberapa pihak bersedia merogoh koceknya hingga Rp30 juta untuk satu pohon, namun pihak pengelola Perkebunan Kalibendo tidak pernah goyah untuk tetap mempertahankannya.
Salah satu pimpinan Perkebunan Kalibendo, Banyuwangi, Iwan, kepada ANTARA mengungkapkan pihaknya selama diberi kesempatan untuk mengelola perkebunan di kaki Gunung Ijen itu akan tetap mempertahankan ribuan pohon mahoni yang sudah terbilang langka itu.
Bahkan, pihaknya tidak akan berhenti sampai di situ, karena kegiatan penanaman bibit mahoni terus dilakukan hingga jumlahnya juga sudah mencapai ribuan.
"Kami hanya ingin menghargai mereka yang telah menanam pohon - pohon mahoni yang berusia puluhan tahun tersebut, sehingga sampai kapan pun akan tetap kami pertahankan pohon-pohon yang sudah terbilang langka itu," katanya, bersemangat.
Menurut Iwan, ribuan pohon mahoni bergaris tengah antara 1 meter hingga 2,5 meter itu ditanam sebagai pembatas Perkebunan Kalibendo dengan kawasan hutan produksi Perhutani Banyuwangi Barat, perkebunan lain, dan perkampungan.
Selain itu, mahoni itu juga berfungsi sebagai pematah angin ("windbreaker") serta penahan erosi dan menjaga sumber mata air.
Posisi Perkebunan Kalibendo yang relatif cukup tinggi di atas permukaan laut (dpl) dengan hamparan tanaman cengkih, kopi, dan karet seluas hampir 822 hektare sangat rentan dihantam angin.
Oleh karena itu, keberadaan ribuan pohon mahoni itu menjadi benteng tanaman-tanaman produksi tersebut, apalagi kini sudah tidak ada lagi tanaman-tanaman berdiameter besar di sekitar kawasan Perkebunan Kalibendo akibat pembalakan liar.
Tawaran demi tawaran terus datang dari beberapa pihak yang tertarik untuk membeli pohon mahoni tersebut.
"Kalau saja kami jual 1.000 pohon dengan harga Rp30 juta per pohon sudah berapa duit yang kami terima, tapi bukan itu tujuan kami mengelola perkebunan ini," katanya.
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang sempat untuk mengusulkan perkebunan ini menerima penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yakni kalpataru.
Namun, pihaknya menolak karena pihaknya selama ini hanya merawat tanaman-tanaman itu, bukan menanamnya.
"Karena kelangkaannya, kami juga sering membantu penelitian - penelitian terkait pohon mahoni, bahkan beberapa pihak akan menjadikan ribuan pohon mahoni itu sebagai indukan untuk mencari bibit mahoni unggul," katanya.(*/ril)