Nasional | Jumat, 03/09/2010 15:31 WIB
Pembunuh Adik Kandung Serahkan Diri ke Polisi
Pacitan, (ANTARA) - Seorang pria dewasa di Dusun Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat, menyerahkan diri ke kepolisian setempat dengan kondisi tangan dan sebagian badan penuh bercak darah usai membunuh adik kandungnya.
Oleh polisi, pria yang diidentifikasi bernama Suyono (30) tersebut kemudian dievakuasi ke Mapolres Pacitan untuk menghindari amuk massa yang nyaris pecah pascakejadian.
"Pelaku sudah kami tahan dan proses hukumnya tengah ditangani penyidik," terang Kapolres Pacitan AKBP Gatot Haribowo.
Selain itu, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Ngadirojo juga mengirim sejumlah anggota babin kamtibmas ke Dusun Soge yang saat itu sempat "memanas".
Usaha itu dilaporkan cukup berhasil meredam amuk warga. Terbukti, puluhan massa yang semula berniat memburu Suyono yang menyerahkan diri ke Polsek Ngadirojo berhasil dicegah.
Mereka akhirnya hanya bertahan di sekitar rumah korban sejak awal peristiwa pembunuhan diketahui terjadi hingga jenazah korban (Sunarto, 25) disemayamkan di pemakaman desa setempat.
Menurut keterangan istri korban, Sulastri, pembantaian sadis yang menyebabkan nyawa suaminya melayang itu dipicu masalah sepele.
Bermula dari inisiatif korban Sutrisno memasang kayu penopang pada batang pohon pisang miliknya yang mulai doyong hampir ambruk, beberapa waktu lalu.
Namun selang beberapa hari setelah itu, lanjut Sulastri, Suyono tanpa mengkonfirmasi lebih dulu mengganti kayu penopang tadi menggunakan kayu lain berbentuk huruf "Y".
"Mungkin maksudnya agar tumpuan pada batang pisang lebih kuat. Tidak diduga, ternyata usaha itu justru menyebabkan hasil sebaliknya. Batang pisang yang sudah terlanjur doyong tersebut patah saat Suyono mencoba mengganti kayu penopang tadi dengan cara mendorongnya agar lebih tegak," papar ibu muda itu sambil sesenggukan menahan tangis.
Kejadian tak diharapkan itulah yang kemudian membuat Sutrisno marah. Dia mengomel dan mengumpat kakak kandungnya itu hingga akhirnya terjadilah adu mulut yang berujuk bentrok fisik.
Tidak ada yang menang ataupun kalah saat bentrok fisik pertama itu terjadi. Hanya selang beberapa menit setelah adu-tonjok antara adik-kakak tersebut, Suyono bergegas masuk rumah dan mengambil sebilah parang.
"Kejadiannya sangat cepat saat dia mulai menyabetkan parang itu ke tubuh suamiku hingga terkapar meregang nyawa," cerita Sulastri. (*)