Kab. Solok Selatan | Kamis, 02/09/2010 12:55 WIB
Sungai Batanghari masih Tercemar Mercury di Solsel
Solok Selatan, (ANTARA) - Kondisi air Sungai Batanghari di Solok Selatan, Sumatera Barat, masih tercemar air raksa (Hg).
Air raksa ini diduga berasal dari aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan oleh masyarakat di Sungai Batanghari.
Sampel yang diambil Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Solok Selatan pada Kamis (15/7) lalu di enam titik, yakni Sungai Muaro Gumanti, Sungai Batang Bangko Batanghari.
Lalu Sungai Batanghari Talantam, Sungai Pamongan Batanghari dan Sungai Batanghari di Jorong Gasiang menunjukan kandungan mercury (raksa) masih di atas ambang baku.
Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 ambang baku air raksa maksimal 0,001 Mg/L.
Dari uji sampel itu kandungan mercury terendah terdapat di Sungai Muaro Gumanti sebesar 0,00234 Mg/L sementara kandungan mercury tertinggi di Sungai Batang Bangko Batanghari sebesar 0,00908 Mg/L.
Sedangkan untuk ketiga sungai lainnya, Sungai Batanghari Talantam 0,00296 Mg/L, Sungai Pamongan Batanghari 0,00323 Mg/L dan Sungai Batanghari di Jorong Gasiang (SBH) 0,00595 Mg/L.
Mercury, kata Kepala Seksi (Kasi) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Novi Hendrix, Kamis (2/9), dapat menyebabkan kanker dan sangat berbahaya.
Kendati demikian, katanya kandungan mercury ini mulai mengalami penyusutan dibanding tahun-tahun sebelumnya karena kuantitas aktivitas PETI sudah mulai berkurang.
"Kalau dulu masyarakat banyak menggunakan dompeng (mesin), tapi sekarang dengan kapal lanting. Dari pantuan KLH jumlah kapal lanting masyarakat berkisar 64 unit," tuturnya.
Mereka terkonsentrasi di sepanjang Sungai Batanghari di Talantam sampai di perbatasan Dharmasraya.
Upaya preventif KLH untuk mengurangi pencemaran ini masih dalam batas pembinaan dan teguran.
Ia menambahkan, PETI merupakan permasalahan yang kompleks karena menyangkut hidup masyarakat. "Di satu sisi membahayakan dan merusak, tapi di sisi lain dibutuhkan karena untuk mencukupi kebutuhan hidup," pungkasnya. (jno/wij)