Kab. Padang Pariaman | Rabu, 28/07/2010 20:51 WIB
Anemia Jangkiti Siswa Korban Gempa Padangpariaman
Padangpariaman, (ANTARA) - Anemia menjangkiti sebagian besar siswa yang menjadi korban gempa di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, karena kondisi memprihatinkan pascagempa, termasuk kurang pasokan gizi dan tempat tinggal tidak memadai.
Kasus anemia selain menjangkiti siswa tingkatan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), juga para orangtua dan guru SD, kata Ketua Harian Yayasan Kusuma Buana, Dr.Adi Sasongko, MA, di Padangpariaman, Rabu.
Data tersebut didapatkannya, berdasarkan hasil rehabilitasi dan peningkatan kesehatan anak sekolah pasca gempa di Puskesmas Pakandangan dan Puskesmas Sicincin, Kabupaten Padangpariaman sejak Februari 2010.
Di wilayah kerja Puskesmas Sicincin, sebutnya, di sekolah dasar ada sebanyak 32,6 persen siswa mengalami anemia, paling banyak dialami siswa kelas satu.
Ia melanjutkan, di tingkat SMP, sebanyak 19,4 siswa menderita anemia, dengan jumlah paling banyak menjangkiti siswa kelas I.
Untuk anemia berat, dialami satu orang siswa sekolah dasar dengan nilai hemaglobin 3,7gr%.
Sedangkan di tingkat SMP, ditemukan dua orang dengan nilai hemaglobin 5,4 gr% dan 6,8 gr%.
Setelah ditindaklanjuti, katanya, nilai hemaglobin mulai membaik, satu orang ditransfusi.
Jumlah siswa yang terkena anemia juga didapati di wilayah kerja Puskesmas Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman.
Dikatakannya, para guru yang diperiksa di Puskesmas Pakandangan, tercatat sebanyak 57 orang guru terkena anemia dari 181 orang kondisinya normal.
Mengatasi hal itu, pihaknya bekerjasama dengan NGO JICA melakukan pemberian suplemen besi kepada siswa dan guru.
"Upaya lain juga dilakukan dengan pemberian makanan tambahan tiga kali dalam seminggu, dengan menu susu, telur, biskuit, buah, dan makanan olahan," ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan rehabilitasi dan peningkatan kesehatan anak sekolah pasca bencana ini hanya stimulan dan diharapkan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah setempat.
Melalui kegiatan itu, telah ditemukan sejumlah perilaku dan masalah kesehatan yang jika tidak terdeteksi sejak dini, akan berkembang semakin buruk.
Menurutnya, anemia terjadi karena kondisi memprihatinkan anak-anak pasca gempa yang masih tinggal di tenda-tenda atau rumah darurat. Faktor kurang gizi dalam ini sangat mempengaruhi.
Mengabaikan hal itu, katanya, dapat menggagalkan kebijakan dan investasi pemerintah yang telah memberikan prioritas tinggi pada upaya pendidikan.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Padangpariaman, Lazwardi membenarkan masih banyaknya anak-anak di Padangpariaman yang kurang gizi.
Namun pihaknya terus mengupayakan membaiknya pasokan izi anak-anak melalui peningkatan pelayanan kesehatan. (goy/wij)