Kab. Lima Puluh Kota | Minggu, 05/09/2010 17:29 WIB
Petani Gambir Limapuluh Kota Butuh Pembinaan
Padang, (ANTARA) - Kalangan petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan sentra utama Sumatera Barat (Sumbar) membutuhkan pembinaan dari instansi terkait tingkat kabupaten dan provinsi dalam upaya peningkatan kualitas produksi.
"Kita membutuhkan pembinaan dalam upaya peningkatan kualitas, agar nilai jual hasil kebun semakin lebih baik," kata Wali Nagari Manggilir, Kecamatan Pangkalan, Limapuluh Kota, Sumbar, Ridwan saat ditemui, Minggu.
Usaha pengembangan gambir merupakan komoditi utama di Kecamatan Pangkalan, bahkan untuk di Nagari/Desa Manggilang saja tercatat sekitar 50 persen kehidupan masyarakat berkebun gambir.
Sedangkan komoditi ekspor ke dua yang diandalkan petani setempat, adalah karet yang diusahakan petani sebesar 40 persen, dan 10 persen kehidupan masyarakat di bidang lain.
Ridwan menjelaskan, produksi komoditi gambir untuk di wilayahnya saja rata-rata 15 ton/minggu yang dalam jumlah besar dibeli pedagang pengumpul setempat untuk dipasarkan ke Padang.
Namun, menjelang masuknya ramadan 1431 hijriyah posisi harga gambir tingkat petani setempat, mengalami turun dari Rp30.000/kg menjadi Rp22.000/kg.
Sementara itu, posisi harga karet alam dalam sepekan terakhir masih berada pada posisi relatif baik atau bertahan Rp9.000/lg. Aspirasi ini, juga disampaikan masyarakat saat kunjungan safari ramadan tingkat provinsi ke Masjid Raya Mukhlisin Manggilang.
Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim ketika kunjungan kerja sekaligus safari ramadhan ke Nagari Manggilang, Sabtu malam menanggapi keluhan petani dengan menyarankan supaya membentuk kelompok-kelompok sehingga bisa dibantu pemerintah daerah.
Jika, sudah terhimpun dalam satu wadah upaya pembinaan akan lebih mudah, baik dalam penyaluran suntikan modal maupun disisi peningkatan aspek sumberdaya manusianya.
Selain itu, katanya, petani gambir harus terus berupaya untuk memperbaiki kualitas hasil produksi agar nilai jualnya semakin baik.
Mencapai kualitas yang baik, tentu dibutuhkan sistem bisnis yang jujur, dan dimulainya dari tingkat petani sendiri untuk tidak mencampur gejah gambir dengan tanah atau lainnya saat pengolahan.
Apalagi, masyarakat sebagai penjual yang barang tentu mengharapkan nilai harganya tinggi, agar memberikan dampak terhadap pendapatan mereka.
Jadi, bila kualitas produksi kebun petani gambir bagus sehingga akan mempengaruhi harga tingkat pedagang, meskipun pedagang besar (eksportis) masih terkesan monopoli karena tujuan ekspornya hanya ke India.
"Bisnis adalah kepercayaan, makanya petani harus ikut menjaganya dengan perbaikan kualitas hasil olahan kebunnya," katanya.
Luas kebun gambir di Sumbar, tercacat sekitar 13.374 hektare dengan total produksi mencapai 6.506 ton per tahun, tersebar pada sentra produksi utama Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan, serta potensial dikembangkan di Sawahlunto, Tanah Datar dan Palupuh Agam. (*/wij)