Internasional | Jumat, 10/09/2010 18:49 WIB
Tentara Myanmar Tembak Mati Dua Warga Sipil
Yangon, (ANTARA/AFP) - Khawatir kematian dua pemuda yang ditembak akibat satu pertengkaran dengan tentara dapat menimbulkan kerusuhan, membuat media pemerintah Myanmar, Jumat menegaskan bahwa insiden itu "bukan perkelahian" antara militer dan publik.
Saat pihak berwenang berusaha menghindari perasaan anti pemerintah menjelang pemilu pertama negara itu dalam dua dasawarsa, surat kabar The New Light of Myanmar mengatakan aksi kekerasan yang menewaskan Soe Paing Zaw, 19 tahun dan Aung Thu Hein, 23 tahun "hanya perkelahian orang-orang mabuk".
Surat kabar itu menyatakan ada satu "persekongkolan" menggunakan insiden itu untuk memprovokasi kerusuhan di negara itu, dan menambahkan rakyat ingin membantu negara "membersihkan unsur-unsur seperti itu yang memprovokasi protes massa untuk tujuan-tujuan politik".
"Pemerintah kini bekerja sama dengan rakyat ...untuk melakukan tindakan terhadap unsur-unsur yang menipu rakyat untuk turun ke jalan-jalan dengan niat menghancurkan stabilitas negara dan perdamaian," katanya.
Soe Paing Zaw dan Aung Thu Hein, yang ditembak mati, Sabtu malam di Bago, utara Yangon, buru-buru dikremasi di kota itu, Selasa petang di bawah penjagaan ketat keamanan, kata para saksi mata.
Upacara pemakaman di kampung mereka di kota itu Sabtu juga diperkirakan akan dijaga ketat sementara junta berusaha menghindari kerusuhan menjelang pemilu 7 November-- kendatipun tidak ada laporan mengenai protes sejauh ini.
Seorang perwira keamanan Myanmar yang tidak disebutkan namanya mengataan pihak berwenang akan mengawasi dengan ketat situasi karena mereka "tidak ingin terjadi kerusuhan menjelang pemilu".
Kedua pemuda itu tewas setelah taksi mereka dihantam sebuah
sepeda motor yang dikendarai oleh dua personil militer yang telah minum bir dekat lokasi itu.
Menurut laporan itu, seorang prajurit lari dari perkelahian itu dan datang kembali dengan empat personil pasukan keamanan dari Stasiun Kereta Api, salah seorang dari mereka melepaskan tembak yang membuat kedua pemuda itu tewas.
"Pada kenyataan, itu adalah satu perkelahian antara orang-orang yang mabuk di jalan ,antara beberapa tentara muda dan sejumlah pemuda sipil, bukan antara Tatmadaw dan publik," kata surat kabar itu, menggunakan istilah untuk militer Myanmar.
"Kasus-kasus seperti itu sering terjadi, tambahnya.
Laporan itu mengatakan satu gugatan telah disampaikan terhadap para prajurit yang terlibat dan menegaskan satu hukuman akan diberikan terhadap tentara yang melanggar peraturan.
Laporan itu tidak menyebut berapa orang yang akan dituntut, tetapi para serdadu yang akan diadili dipekerjakan akan dipecat dari militer sebelum menghadapi proses pengadilan.
Para prajurit yang terlibat insiden itu datang ke rumah-rumah dua korban utuk meminta maaf kepada orang-orang tua mereka," kata surat kabar tersebut.
Myanmar, yang diperintah militer sejak tahun 1962, dilanda kerusuhan sipil dalam tahun-tahun belakangan ini, tetapi sebagian bssar berakhir dengan kemenangan berdarah untuk junta.
Negara itu melarang warga sipil menguasai senjata dan pengendalian ketat terhadap pers dan kebebasan lainnya untuk mempertahankan kekuasaan tangan besi junta.
Pemilu mendatang-- pertama sejak pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi ditolak berkuasa seteah partainya meraih kemenangan dalam pemilu tahun 1990--dikecam sebagai pura-pura yang bertujuan untuk mengekalkan kekuasaan militer. (*/wij)