Nasional | Jumat, 30/07/2010 11:23 WIB
BI Harus Picu Rupiah Menguat Lebih Jauh
Jakarta, (ANTARA)- Pengamat pasar uang, Farial Anwar mengatakan, Bank Indonesia harus mendukung pergerakan rupiah yang saat ini mencapai Rp8.950 per dolar untuk menguat lebih jauh, karena BI selama ini hanya memikirkan kepentingan eksportir.
Para eksportir selama ini memperoleh keuntungan dari produk ekspor, namun sebagian kecil saja dana yang diperoleh dibawa ke tanah air, sedangkan sebagian besar dananya disimpan di luar negeri, kata Farial Anwar di Jakarta, Jumat.
Farial, yang juga Direktur Currency Management Group mengatakan, rupiah sebenarnya sudah dapat berada di angka Rp8.800 per dolar, apabila BI tidak menahannya.
BI selama ini berusaha menjaga rupiah tetap berada di atas level Rp9.000 per dolar, ujarnya.
Kuatnya arus modal asing yang masuk ke pasar, menurut dia, membuat BI melepas rupiah hingga berada di bawah Rp9.000 per dolar, namun apakah posisi rupiah akan kembali melemah hingga di atas angka Rp9.000 per dolar.
"Kami harapkan BI membiarkan rupiah menguat tergantung pada pasar," katanya seraya menambahkan, karena apabila rupiah terus menguat, harga biaya pergi haji akan lebih murah.
Bahkan dengan membaiknya rupiah hingga mencapai level tertentu, maka subsidi pemerintah kepada masyarakat terhadap harga bahan bakar minyak akan makin berkurang, katanya.
Indonesia, yang saat ini ekonominya terus tumbuh, merupakan tempat mencari keuntungan yang lebih baik ketimbang di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.
Pelaku asing kemungkinan sulit untuk menginvestasikan dananya di kedua kawasan itu, karena gejolak ekonomi yang masih belum pasti, katanya.
Karena itu, menurut dia, kawasan Asia yang masih tumbuh seperti Indonesia merupakan sasaran utama berinvestasi, karena bunga rupiah yang tinggi mencapai 6,5 persen ketimbang dolar hanya 0,25 persen.
Makin aktifnya pelaku asing menempatkan dananya merupakan peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan dana tersebut untuk membangun ekonomi tumbuh lebih baik, ucapnya. (*)