Nusantara | Jumat, 10/09/2010 19:36 WIB
Pengojek Kristen Ikut Nikmati Berkah Idul Fitri
Ambon, (ANTARA) - Para pengojek sepeda motor di Ambon beragama Kristen diminta beroperasi di permukiman Islam oleh rekan seprofesinya yang Muslim saat perayaan Idul Fitri 1431 Hijriyah.
Salah satu pengojek warga Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Marthen(27) di Ambon, Jumat petang, mengatakan, dia dan rekannya diajak pengojek beragama Islam untuk beroperasi di pangkalan Waihaong.
"Saya biasanya mangkal (beroperasi) di Benteng. Hanya saja teman- teman yang beragama Islam sedang merayakan Lebaran, makanya diminta untuk beroperasi di Waihaong," ujarnya.
Marthen mengaku mengantar penumpang yang bermukim di kawasan Waihaong dengan tarif Rp2000 - Rp3000 per penumpang.
"Beta(saya, red) dan rekan- rekan juga mengantar warga Waihaong ke kawasan Wara Kuning, Kecamatan Sirimau, kota Ambon dari pagi hingga Jumat petang untuk bersilatirahim," katanya.
Seorang pengojek lainnya yang warga Batugantong, Kecamatan Nusaniwe, Yulius mengatakan saat mengantar penumpang di kawasan Waihaong, dia juga ditawarkan makan siang.
"Beta sungguh terharu saat itu karena kebetulan saat itu belum makan siang," ujarnya.
Senada dengan Yulius, pengojek lainnya yang berpangkalan di desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Andrias mengemukakan, saat mengantar penumpang ke desa Waiheru, kecamatan Baguala diberikan kue dan minuman ringan .
"Beta jadi malu karena sudah diberi kue dan minum juga dibayar Rp35.000. Padahal, kesepakatan hanya Rp25.000. Jadi ini berkat bagi pengojek Kristen saat perayaan Idul Fitri yang nantinya bila Natal basudara (saudara) Islam kebagian mencari ( ngojek)," katanya.
Sementara itu , seorang pengojek di Batumerah, Dullah yang mengajak Andrias beroperasi mengatakan saling memberikan rezeki itu dilaksanakan sebagai cerminan hidup para leluhur yang saling menghidupi (berbagi).
"Tidak ada peraturan yang mengatur saat perayaan Idul Fitri pengojek Kristen diberikan kesempatan beroperasi di permukiman Islam. Sebaliknya bila Natal pengojek Islam beroperasi di permukiman Kristen. Ini kesadaran sebagai sesama orang basudara (saudara)," ujarnya.
Wali Kota Ambon, Jopi Papilaja mengakui jalinan keharmonisan antarumat beragama semakin kental paska konflik sosial pada 1999.
"Timbul kesadaran bahwa kehidupan orang Ambon ( saudara) itu yang satu harus menunjang lain sehingga jalinan keharmonisan antarumat beragama sebagai warisan leluhur itu dilestarikan," katanya. (*/wij)